Food Photography

Text & foto oleh: Iswanto Soerjanto

Sejarah Food Photography

Pada abad ke 16-17 di Eropa, lukisan dengan thema subjek makanan mulai berkembang.  Banyak kalangan atas Eropa membayar pelukis untuk membuat lukisan still life dengan thema makanan untuk menggambarkan kemakmuran.  Di antara lukisan-lukisan yang terkenal adalah karya Michelangelo Merisi de Caravaggio dan Johannes Ver Meer.

Di abad ke 20, food photography menjadi bagian tidak terpisahkan dari industri makanan yang dalam skala besar mempengaruhi tumbuhnya gaya hidup modern, bagaimana kita menyantap makanan baik dalam rumah tangga maupun di tempat kerja, mall, dll.  Sejarah seperti berulang dalam bentuk yang lain.  Food photography seperti lukisan still life makanan pada abad  16 mempunyai peran yang sama, yaitu sebagai symbol kemakmuran namun bedanya di jaman modern saat ini, food photography menjadi sangat persuasive, sehingga dalam food photography selalu menyajikan 4 elemen, yaitu : Menggoda, Lezat, Sehat dan Bersih.

Pemotretan Food Photography

Sama seperti pada setiap jenis pemotretan, seorang food photographer akan berurusan dengan cahaya, pemilihan kamera dan lensa serta komposisi.   Jawabannya juga hampir mirip untuk semua jenis pemotretan.

Cahaya

Sumber cahaya yang digunakan bisa cahaya alami dalam hal ini matahari atau artificial lighting berupa lampu baik flash, tungsten, lampu ruangan dan lain-lain.  Yang terpenting adalah bagaimana kita menyiasati sumber cahaya tersebut untuk menghasilkan kontras cahaya seperti yang kita kehendaki.  Untuk itu kita membutuhkan lighting modifier bisa berupa softbox, reflector, honeycomb atau bahkan juga penghalang cahaya dari botol plastic (saya sering menggunakan ini untuk memblok cahaya yang terlalu keras). 

Sumber cahaya dari samping atau lazim disebut side light adalah yang paling ideal untuk semua jenis pemotretan termasuk juga pada food photography.  Side light bisa dari atas object agak sedikit dari arah belakang atau juga dari samping dan atau belakang objek.  Pemilihan letak main light ini tentunya harus disesuaikan dengan arah sudut kamera.  Usahakan sudut yang terbentuk antara kamera dengan sumber cahaya paling tidak 45 derajat, karena hal ini akan membentuk kontras cahaya yang lebih baik serta menghasilkan cahaya melingkari texture makanan.  Jika sudut antara kamera dan sumber cahaya hampir bertemu (kurang dari 45 derajat) maka cahaya yang jatuh ke objek akan terlihat flat (datar) sehingga kontras yang ditimbulkan juga sangat sedikit. 

Penggunaan reflector card akan banyak membantu kita dalam mengatur kontras sesuai yang diinginkan.  Reflector card dapat dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti cermin, aluminium foil, karton hitam dan putih dengan berbagai ukuran tergantung kebutuhan.  Selain itu juga dibutuhkan clamp untuk memegang reflector card. 

Camera dan Lensa

Bagian ini merupakan yang paling banyak ditanyakan ketika saya masih mengajar fotografi.  Sebenarnya kamera dan lensa apapun dapat digunakan dalam pemotretan food, namun kualitasnya tentu akan berbeda satu sama lain.  Idealnya dalam pemotretan food kita menggunakan lensa macro ukuran medium, untuk kamera DSLR lensa yang ideal adalah lensa 85mm hingga 105mm dan 120mm atau 140mm pada kamera medium format.  Kamera yang ideal adalah jenis View Camera atau Large Format Camera, selain karena format filmnya lebih besar juga kualitas lensa large format camera tidak diragukan lagi.

 

Komposisi

Seperti umumnya semua jenis pemotretan, pada food photography kita juga harus melakukan komposisi.  Komposisi dalam food photography umumnya dilakukan komposisi diagonal, tujuannya untuk memenuhi ruang kosong (negative space). 

Penggunaan teknik selective focus sangat membantu untuk menonjolkan objek atau detail dari sebuah objek.

Setelah kita mahir dalam ketiga hal di atas maka sekarang kita akan mulai memotret makanan yang ada di table top.  Kita harus memulainya dengan membuat konsep/ide, bagaimana kita ingin menggambarkan makanan tersebut kepada audience, kesan apa yang ingin kita sampaikan, inti dari menu atau masakan harus jelas tersampaikan, cara penyajian juga menjadi hal yang harus kita pikirkan jika kita membuat foto makanan untuk client yang merupakan produsen bumbu makanan jadi dan masih banyak hal yang harus kita pikirkan berkaitan dengan objek yang akan kita ceritakan melalui foto.  Setelah kita memikirkan konsep dan membuat ringkasan, barulah kita bisa menentukan lighting mood yang cocok untuk mendukung konsep pemotretan, dari sini lalu kita bisa mendesign bagaimana pemotretan akan kita lakukan, misalnya soal pemilihan lighting, apakah kita akan menggunaka flash atau cahaya matahari, apakah pemotretan akan kita lakukan di lokasi sebenarnya atau di dalam studio, dan lain-lain hingga ke detail terkecil.

Untuk pemotretan food photography, kita sebaiknya melibatkan seorang food stylist yang tugasnya menyiapkan atau membuat makanan yang akan kita foto sekaligus menatanya secara artistic dalam sebuah rangkaian.  Food stylist adalah partner food photographer oleh karena itu sebaiknya kita mempunyai chemistry yang baik dengan food stylist.